Klise Tapi Fakta

Kata-kata itulah yang terngiang-ngiang di kepala saya beberapa hari ini. Angkatan saya di prodi Arsitektur memang sedang mengalami masalah. Tak jelas masalahnya apa, sungguh klise penuh drama tapi itu fakta. Saya sendiri pun tak bisa memahaminya karena … sudahlah saya sulit menjelaskannya.

Di kehidupan pribadi pun, saya sendiri sering mempertanyakan. Apakah seorang mahasiswa harus mengabdi kepada organisasi kemahasiswaannya karena formalitas, pertemanan atau datang dari hati nurani? Apakah seorang mahasiswa harus terus-menerus menghabiskan waktunya untuk berkegiatan di kampus? Apakah seorang mahasiswa harus melepas kewajibannya sebagai seorang anak di lingkungan keluarga primer HANYA karena kegiatan non-akademis di kampus?

Ya, saya terjebak di irisan berbagai macam kepentingan. Kepentingan keluarga. Kepentingan akademis. Kepentingan kemahasiswaan. Mana yang harus saya pilih? Haruskah pakai skala prioritas? Semuanya penting dan memaksakan agar berada di posisi pertama dari skala prioritas saya! Saya kesal dengan semua ini. Tak aneh beberapa minggu ini, saya memilih untuk diam dan tak mau aktif di beberapa posisi, mengundurkan diri dari berbagai posisi di kampus. Saya lelah akan semua ini.

I wanted to be guided. But it never happened. I choose to break the boundaries and make my own guide guided.

Sent from my iPad

Menjadi Mahasiswa Baru ITB

Tak terasa, waktu sudah bergulir begitu sangat cepat. Padahal aku baru merasakan duduk di bangku kayu berukuran kecil dengan meja berwarna-warni kontras. Di sekitarnya, anak-anak duduk dengan membawa tas mereka masing-masing dengan semangat. Bahkan, tidak sedikit pun dari mereka merengek-rengek lalu menghampiri orang tuanya. Itulah masa awal pendidikan aku, masa taman-taman kanak.

Satu tahun kemudian, seiring dengan lulusnya bapakku sebagai seorang sarjana, aku pindah dari kota kelahiranku, Bandung, ke kota di timur pulau Jawa, kota metropolitan kedua setelah Jakarta, yaitu Surabaya. Sebenarnya, aku bersama keluarga tinggal di Sidoarjo, kota satelit Surabaya.

Itulah sepenggal kisah awal masa-masa pendidikanku dahulu. Kini, 12 tahun kemudian, aku menyandang status sebagai mahasiswa. Aku sangat senang atas statusku saat ini. Terlebih lagi, aku meraih status ini melalui jalur rakyat, jalur penuh dengan usaha keras, jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Aku berhasil menancapkan sejarah di keluarga besarku sebagai satu-satunya yang masuk ke Perguruan Tinggi Negeri, tepatnya saya diterima menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung, yang dikenal sebagai institut terbaik bangsa. Kebahagiaan ini sangat lengkap ketika Ibuku menangis bahagia ketika melihat namaku di pengumuman SNMPTN di internet. Walaupun senang, aku harus tetap melakukan apa yang menjadi tanggung jawabku sebagai MAHASISWA.

HIDUP MAHASISWA!!!

Posted from WordPress for iPhone.