Refleksi : Keseimbangan dan Pedoman Hidup

Tak mungkin semua hal bisa didapatkan dengan mudah. Mungkin tidak semua tetapi mayoritas seperti itu. Ya. Segala hal yang kamu lihat diluar sana bisa didapatkan dengan usaha. Besarnya usaha yang kamu lakukan akan menentukan seberapa besar hasil yang akan kamu dapatkan.

Tak sedikit orang yang menginginkan sesuatu di luar batas kemampuan mereka. Entah itu kemampuan fisik mereka ataupun kemampuan finansial mereka. Ada orang yang bermegah-megahan dengan dompet tebal namun tidak bisa mendapatkan suasana yang homie di rumahnya. Sebaliknya, banyak orang mendapati suasana keluarga yang aman dan tentram sekalipun kondisi ekonominya sangat terhimpit. Keduanya saling melengkapi. Hitam putih. Langit bumi. Yin yang.

Kehidupan di muka bumi ini memiliki hukum keseimbangannya. Ketika seseorang sedang berlebih-lebihan, dia akan mendapati sesuatu yang berkurang dari dirinya hingga mencapai titik keseimbangan. Ibarat kadar kesenangan dia mencapai 7 dari 10 maka dia akan mendapatkan kadar kesedihan hingga mencapai keseimbangan di angka 5 dari 10 bagi kedua sisi.

Pentanyaannya adalah apakah kita hanya bisa ikhlas dengan hukum keseimbangan yang ada? Jawabannya: antara ya atau tidak. Tidakkah kita terpikirkan untuk memperluas ‘kadar keseimbangan’ kita? Perluas saja dari kadar 10 (yang sebelumnya dicontohkan) menjadi 20 dan seterusnya. Tetapi, berhati-hatilah dapat memperluas kadar ini karena setiap orang memiliki batas maksimumnya. Tinggi kadar keseimbangan itu seperti tingginya sebuah pohon. Semakin tinggi pohon tersebut, semakin besar angin yang berhembus. Semakin tinggi kadar yang ditingkatkan, semakin besar godaan yang didapatkan.

Perlukah kita khawatir akan itu? Tidak, jika kamu memiliki pedoman hidup yang seteguh-teguhnya pedoman hidup layaknya akar pohon yang kuat menghujam ke dalam tanah. Satu-satunya adalah agama/keyakinan kita. Kembali mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing: sudahkan kuat ‘pedoman hidup’ kamu untuk menghadapi kerasnya kehidupan?

Klise Tapi Fakta

Kata-kata itulah yang terngiang-ngiang di kepala saya beberapa hari ini. Angkatan saya di prodi Arsitektur memang sedang mengalami masalah. Tak jelas masalahnya apa, sungguh klise penuh drama tapi itu fakta. Saya sendiri pun tak bisa memahaminya karena … sudahlah saya sulit menjelaskannya.

Di kehidupan pribadi pun, saya sendiri sering mempertanyakan. Apakah seorang mahasiswa harus mengabdi kepada organisasi kemahasiswaannya karena formalitas, pertemanan atau datang dari hati nurani? Apakah seorang mahasiswa harus terus-menerus menghabiskan waktunya untuk berkegiatan di kampus? Apakah seorang mahasiswa harus melepas kewajibannya sebagai seorang anak di lingkungan keluarga primer HANYA karena kegiatan non-akademis di kampus?

Ya, saya terjebak di irisan berbagai macam kepentingan. Kepentingan keluarga. Kepentingan akademis. Kepentingan kemahasiswaan. Mana yang harus saya pilih? Haruskah pakai skala prioritas? Semuanya penting dan memaksakan agar berada di posisi pertama dari skala prioritas saya! Saya kesal dengan semua ini. Tak aneh beberapa minggu ini, saya memilih untuk diam dan tak mau aktif di beberapa posisi, mengundurkan diri dari berbagai posisi di kampus. Saya lelah akan semua ini.

I wanted to be guided. But it never happened. I choose to break the boundaries and make my own guide guided.

Sent from my iPad