Cuti Dari ReMo

Masuk ke tahun ke-4 dari perkuliahan, saya memutuskan untuk istirahat sejenak dari rutinitas saya di Mozilla Reps mulai bulan November 2013 hingga bulan Agustus 2014. Ya. 10 bulan hiatus. Waktu yang cukup panjang. Semoga ini menjadi langkah tepat bagi saya untuk memusatkan fokus pada prioritas teratas.

Lalu, apa yang akan saya lakukan dari detik ini hingga November 2013? Saya masih menjalankan aktivitas saya … and I’m still a proud Mozillian (dan membereskan hutang saya akan postingan blog dari kegiatan sebelumnya)

I got my Starbucks Card!

Hari ini, saya melihat keramaian tersendiri soal Starbucks di sepanjang linimasa Twitter. Ternyata, Starbucks Indonesia baru saja meluncurkan Starbucks Card yang bisa didapatkan di outlet Starbucks terdekat.

Desainnya sangat unik membuat saya tertarik untuk memilikinya. Setelah saya mengecek situs resmi Starbucks Card, ternyata outlet Starbucks terdekat dengan rumah saya, di Trans Studio Mall (TSM) pun menyediakan Starbucks Card. Tanpa pandang bulu, saya langsung menuju TKP setelah sebelumnya menghadiri seminar di IM Telkom. Sesampainya di TSM, saya langsung menghampiri barista untuk mendapatkan Starbucks Card.

Sebagai loyalty dan reward card, kita harus mengisi saldo di dalamnya minimal Rp100.000,- dan maksimal Rp2.000.000,-. Saya memutuskan untuk top-up saldo sebesar Rp100.000,- saja dan memilih Starbucks Card dengan desain ‘Coffee and Tea’. Selain itu, saya pun mendapatkan minuman gratis berukuran Tall karena membeli Starbucks Card pada hari peluncurannya.

Walaupun sempat terjadi masalah ketika transaksi, akhirnya saya bisa membawa pulang Starbucks Card. Sebelum meninggalkan outlet, saya pun membagikan gambarnya di Path.

 

Dengan memiliki Starbucks Card, ada banyak benefit yang bisa didapatkan. Kamu bisa mengetahuinya lebih lanjut di www.sbuxcard.com.

Enjoy,
Fauzan

#LatestLog – Hanya Sebuah Update

Akhirnya saya bisa menulis lagi di blog yang sudah agak berdebu ini. Padatnya kegiatan kuliah membuat saya jarang menulis di blog. Yang ada hanya meracau di Twitter, mengomentari apa yang sedang terjadi setiap harinya (apa lagi yang sedang ramai dibahas secara viral di linimasa)

Banyak sekali update yang ingin saya bagikan selama saya menghilang dari dunia per-blog-an, antara lain

I Got Medium-ed!
Alhamdulillah setelah sekian lama hanya menjadi pembaca, saya pun ‘diizinkan’ untuk menulis di Medium. Terima kasih untuk Wiku yang sudah membantu. Bagi yang belum tahu Medium, silakan dikunjungi situsnya. Banyak sekali tulisan yang menarik untuk disimak, cocok bila ditemani dengan segelas lemon tea hangat di sore hari. Kedepannya, saya akan menulis sebuah blog berseri di sana namun topiknya masih belum ditentukan.

Super Mentor!
Saya bergabung menjadi Super Mentor dari gerakan #teachtheweb – Mozilla Webmaker. Saya ingin para pengajar maupun para profesional di Indonesia utamanya di bidang Web ikut aktif berpartisipasi dalam #teachtheweb. Saya yakin Web menjadi sumber daya paling murah dan mudah untuk belajar dan menyuarakan pendapat kita sebaik-baiknya dan bertanggung jawab

Book-ing
Saat ini saya mengerjakan sebuah proyek. Semoga buah dari proyek ini bisa Anda dapatkan dalam beberapa waktu kemudian dari Amazon.com atau paling tidak… di Gramedia.

#bukannantiaja
Kali ini, saya masih mengelola situs NantiAja.com dan sudah sekian lama saya belum memperbaharui konten di dalamnya. Perkuliahan benar-benar membunuh produktivitas saya di situs ini karena prioritas saya sedang difokuskan di ranah akademis. Rencananya saya akan merancang ulang NantiAja.com dari sangat dasar.

Itu saja. Terima kasih sudah membaca.

Refleksi : Keseimbangan dan Pedoman Hidup

Tak mungkin semua hal bisa didapatkan dengan mudah. Mungkin tidak semua tetapi mayoritas seperti itu. Ya. Segala hal yang kamu lihat diluar sana bisa didapatkan dengan usaha. Besarnya usaha yang kamu lakukan akan menentukan seberapa besar hasil yang akan kamu dapatkan.

Tak sedikit orang yang menginginkan sesuatu di luar batas kemampuan mereka. Entah itu kemampuan fisik mereka ataupun kemampuan finansial mereka. Ada orang yang bermegah-megahan dengan dompet tebal namun tidak bisa mendapatkan suasana yang homie di rumahnya. Sebaliknya, banyak orang mendapati suasana keluarga yang aman dan tentram sekalipun kondisi ekonominya sangat terhimpit. Keduanya saling melengkapi. Hitam putih. Langit bumi. Yin yang.

Kehidupan di muka bumi ini memiliki hukum keseimbangannya. Ketika seseorang sedang berlebih-lebihan, dia akan mendapati sesuatu yang berkurang dari dirinya hingga mencapai titik keseimbangan. Ibarat kadar kesenangan dia mencapai 7 dari 10 maka dia akan mendapatkan kadar kesedihan hingga mencapai keseimbangan di angka 5 dari 10 bagi kedua sisi.

Pentanyaannya adalah apakah kita hanya bisa ikhlas dengan hukum keseimbangan yang ada? Jawabannya: antara ya atau tidak. Tidakkah kita terpikirkan untuk memperluas ‘kadar keseimbangan’ kita? Perluas saja dari kadar 10 (yang sebelumnya dicontohkan) menjadi 20 dan seterusnya. Tetapi, berhati-hatilah dapat memperluas kadar ini karena setiap orang memiliki batas maksimumnya. Tinggi kadar keseimbangan itu seperti tingginya sebuah pohon. Semakin tinggi pohon tersebut, semakin besar angin yang berhembus. Semakin tinggi kadar yang ditingkatkan, semakin besar godaan yang didapatkan.

Perlukah kita khawatir akan itu? Tidak, jika kamu memiliki pedoman hidup yang seteguh-teguhnya pedoman hidup layaknya akar pohon yang kuat menghujam ke dalam tanah. Satu-satunya adalah agama/keyakinan kita. Kembali mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing: sudahkan kuat ‘pedoman hidup’ kamu untuk menghadapi kerasnya kehidupan?

Meninggalkan Kemewahan Demi Mengejar Kemiskinan

Kini, semua orang senang meninggalkan kemewahan dan berusaha membabi buta mengejar kemiskinan apapun yang terjadi. Tak percaya? Kamu bisa lihat lingkungan sekililingmu.

Kamu adalah orang kaya jika kamu masih bisa melihat pepohonan lebat di sekitarmu.

Kamu adalah orang kaya jika kamu masih bisa menikmati ruang-ruang bermain dengan padang rumput ilalang menemani.

Kamu adalah orang kaya ketika kamu bisa menghabiskan waktu dengan teman-temanmu berlari dan bermain di sore hari tanpa dihantui rasa takut.

Kamu adalah orang kaya ketika kamu bisa menghayati sebuah ruang hijau berarti untuk hidupmu dan manusia di sekitarnya.

Lalu?

Kamu adalah orang miskin jika kamu senang tinggal di antara hutan beton tanpa adanya ruang publik hijau di antaranya.

Kamu adalah orang miskin jika kamu senang menghabiskan waktumu yang sempit di dalam pusat perbelanjaan yang besar dan penuh dengan barang-barang dengan harga yang mahal.

Kamu adalah orang miskin ketika kamu hanya ingin menikmati hidup dalam sebuah restoran mahal dengan makanan porsi sedikit.

Kamu adalah orang miskin ketika kamu menghilangkan ruang publik hijau untuk keegoisanmu belaka.

Maka?

Jadilah orang kaya dengan menghargai ruang publik terbuka hijau dan menghargai ruangmu menjadi sebuah meaningful place.

A space is not always a place. But a place is always become your meaningful space.

Seandainya Ada Jalur MRT Di Bandung

Setelah pernah berkunjung ke Malaysia dan Singapura, ekspektasi saya akan transportasi publik yang layak semakin tinggi terutama di kota Bandung. Bagi warga Bandung sendiri, transportasi publik tidak bisa dilepaskan dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari dan transportasi publik itu adalah angkutan kota atau angkot.

Angkot menjadi transportasi publik pilihan utama warga Bandung terutama pelajar karena menjangkau banyak area dan ongkosnya terjangkau. Tetapi, angkot sendiri memberi kesan buruk bagi pengguna jalan. Pengendaranya yang ugal-ugalan. Penumpang memberhentikan angkot untuk naik atau turun seenaknya. Angkot sering ngetem di jalan raya yang padat akan kendaraan atau bahkan di jalan sempit asalkan dianggap potensial dapat mengangkut calon penumpang. Itu sangatlah buruk karena membuat jalanan tidak tertib dan kemacetan bisa terjadi karena hal konyol itu. Halte atau area yang tersedia pun kurang dimanfaatkan dengan baik. Selain itu, pengelolaannya yang bersifat kekeluargaan dan/atau menggunakan sistem koperasi yang tidak terkendali membuat segala semrawut. Oleh karena itu, saya menyimpulkan bahwa Bandung butuh MRT.

MRT di Bandung

MRT tak hanya menjadi solusi dari angkutan kota yang semrawut. Tetapi juga, MRT berpotensi memindahkan warga yang menggunakan motor secara individu menjadi pengguna MRT. Terlebih lagi, pengguna motor individual (satu motor untuk satu orang) yang membludak membuat jalan semakin lebih kacau.

Setelah saya menelaah dan melihat jalur lalu lintas utama yang ada, Bandung minimal memiliki 6 jalur MRT antara lain:

    1. Center Line (Pasteur – Husein Sastranegara – Cicaheum)
    2. North West Line (Setiabudi – Sukajadi – Leuwipanjang)
    3. North Center Line (Setiabudi – Cihampelas – Kebon Kalapa)
    4. North East Line (Dago Atas – Merdeka – Kebon Kalapa – Buah Batu)
    5. South Line (Husein Sastranegara – Gedebage)
    6. Circle Line (Pasir Koja – Tegal Lega – Lingkar Selatan – Riau – Dago – Husein – Jamika – Pasir Koja)

Contoh Rincian Jalur

Center Line
Pasteur – Husein Sastranegara – Hasan Sadikin – Cipaganti – Cihampelas – Tamansari – Dago – Gasibu – Pusdai – Pahlawan – Cidurian – Surapati – Cicaheum
North West Line
Setiabudi – Sukajadi – Hasan Sadikin – Pasir Kaliki – Stasiun Hall – Tegalega – Leuwi Panjang
… dan sebagai nya

Saya sangat rindu apabila kalimat ini diucapkan di dalam setiap perjalanan,

Stasiun selanjutnya, Cicaheum. Stasiun salajengna, Cicaheum. Next station, Cicaheum.

Semoga MRT di Bandung bisa terwujud… kelak.