Senandung Jawa Dua Dua
Aku adalah batu
Terlihat namun tak diperhatikan
Berguna hanya sesaat
Alas sepatu adalah ciuman pertamaku
Aku adalah kertas bekas
Terbuang setelah terguna
Diremas sekuat tenaga
Hujan kubasah rusak dan hilang
Aku adalah tahta
Yang dianggap tinggi oleh kalian
Terguna jadi simbol
Perduli awal ditekan dibelakang
Aku adalah pemimpin
Pemimpin yang dibatukan
Pemimpin yang dikertaskan
Pemimpin yang ditahtakan
Itukah yang pantas untukku
Itukah yang kau akui
Jujurlah!
Katakan dengan suara hatimu
Kar’na ia tak pernah bohong
Lima lembar catatan
sudah kutulis
Inikah yang ke-enam
Tulisan yang menghapus aku
dari tujuh
Hijau mungkin bisa jadi akhir
Akhir aku jadi batu
Akhir aku jadi kertas
Akhir aku jadi tahta
Biarkan aku hampa
Menjadi manusia yang polos
Biar daun jago bahasa
Biar ranting bermesraan dengan bunga
Biar rumput bergoyang dengan angin
Biar legislatif memutus tanpa presensi
Mungkin catatan ini
sulit kau terjemahkan
sekalipun engkau
kamus berjalan
Catatan ini
kan kuhilangkan
bila batu dirangkul daun
bila ranting menghibur kertas bersama bunga
bila rumput merangkul tahta bersama angin
bila pemimpin diperhatikan legistatif
Itu saja
yang kuharapkan
dari lubuk hati paling dalam
demi menghidupkan kehidupan
atau kematian
dan semua teman – temannya
oleh sebuah permainan dingin





