XL Future Leaders Roadshow Hadir di ITB

XL Axiata kembali melakukan University Roadshow salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) XL Future Leaders. Program ini berupa pendidikan soft skills berbasis teknologi informasi kepada mahasiswa unggulan yang terpilih menjadi profesional yang siap jadi pemimpin-pemimpin perusahaan multinasional di masa depan. Roadshow kali ini dilakukan di kota Bandung dan dipusatkan di Aula Barat Institut Teknologi Bandung pada hari Jumat kemarin (31/8). Dalam roadshow ini, diadakan juga seminar mengenai Future Leaders yang menghadirkan narasumber Chief Service Management Officer XL Ongki Kurniawan, Country Manager of Multiply Daniel Tumiwa dan Kepala Lembaga Kemahasiswaan ITB Brian Yuliarto, Ph.D.

Dalam siaran pers yang diterima, Vice President XL Central Region Nuruddin Al Fithroh mengatakan bahwa program XL Future Leaders adalah bukti keseriusan XL berperan aktif mendukung pendidikan nasional untuk melahirkan pemimpin-pemimpin baru di masa depan. Nuruddin juga mengharapkan dengan adanya seminar ini, dapat memberi pencerahan dan menginspirasi mahasiswa untuk menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. ITB adalah salah satu dari 50 universitas di Indonesia yang akan menjadi tujuan roadshow program XL Future Leader dan kegiatan roadshow ini akan berlangsung hingga 14 September 2012.

Bagi kamu mahasiswa yang ingin mendapat ilmu yang luar biasa dari program XL Future Leader, kamu bisa daftar langsung di website resmi XL Future Leaders. Pendaftaran akan berlangsung hingga 14 September 2012 mendatang dan proses seleksi akan berlangsung pada bulan Oktober 2012. Program utama dari XL Future Leaders sendiri akan dimulai pada Desember 2012. Kamu bisa follow langsung akun Twitter @indberprestasi untuk tahu lebih lanjut tentang program ini. 😀

Kamu. Kontribusi Basa-Basi.

Apa sih makna kontribusi
Jika hanya ingin sebuah apresiasi
Apa sih makna kontribusi
Jika keluarga sakit dianggap basa basi

Untuk apa berkontribusi
Jika kontribusi hanya jadi alat tipu daya masa kini
Untuk apa berkontribusi
Jika ada maksud sana dan sini

Bagi mereka yang benar berkontribusi
Hanya diam dan selesaikan amanat hingga tamat
Bagi mereka yang benar berkontribusi
Apresiasi datang bukan untuk dikeramat

Kontribusi bukan untuk apresiasi
Apresiasi bukan untuk kontribusi
Apresiasi hanya angin belaka
Jika itu yang dikejar saat berkontribusi

Itulah kontribusi basa basi
Mencari perhatian pejabat tanpa spasi
Mencari perhatian berharap apresiasi
Tanpa tahu apa yang terjadi

Kepilih Jadi Komandan Batagor.Net

image

Hari ini ada halal bihalal para Batagoris di Tokyo Connection, Progo, Bandung.Batagoris yang hadir antara lain Aki Herry, Budi, Petra Barus, Bagus Rully, Amalia Sari, Rifqy Majid, Ermaya, Kak Arie, Senny dan Cici Fera. Diawali dengan posting di milis oleh Maya (yang datangnya telat), maka terjadilah halal bihalal hari ini.

Asalnya cuma obrolan kopdar Batagoris seperti biasanya. Tapi, Bagrul membahas soal kepengurusan Batagor.Net yang baru dan regenerasinya. Secara bulat, mereka menunjuk saya jadi Komandan Batagor.Net selanjutnya dan saya menerimanya. Syukurnya, Komandan sebelumnya, Catur Nengsusmoyo alias moyocatur, menyetujuinya dan menerima sorban sebagai anggota Dewan Pembina/Dewan Syuro. Plong lah sudah perasaan saya.

Untuk periode Batagor.Net ke depan, saya akan ditemani Rifqy Majid sebagai Wakil Komandan dan Batagoris lainnya untuk memajukan Batagor.Net kembali.

Event Batagor selanjutnya?
Bebersih Bareng Yuk! Rises – 30 September 2012 di area Car Free Day Dago. Buat kamu yang mau gabung, yuk bisa isi kolom komentar di bawah ini.

Sampurasun!

Fauzan Alfi
Posted from WordPress for Android

Arsitektur atau Informatika? Inilah Pilihan Saya

Tulisan ini bukan mengenai seseorang yang bingung memilih jurusan yang ditempuh di bangku perkuliahan. Tulisan ini bukan ditulis oleh seseorang yang baru lulus dari bangku sekolah dan baru saja ingin memilih universitas yang dituju.

Tulisan ini ditulis oleh seorang mahasiswa yang tidak berhasil diterima di jurusan yang dia inginkan tetapi diterima di jurusan yang dianggap menarik baginya dan mudah dari segi ospek jurusannya. (Ya, itu benar). Itulah saya.

Sejak awal, saya bercita-cita untuk diterima di jurusan Informatika. Well, actually I’ve got it in the end of year 2009. Sebenarnya, saya sudah diterima di Teknik Informatika – Institut Teknologi Telkom. Kemudian, saya memutuskan untuk mengambil kursi di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan – Institut Teknologi Bandung yang didapat via jalur tertulis SNMPTN 2010 dengan alasan singkat: di IT Telkom diharuskan menggunakan kemeja putih + celana panjang. Ya, klise tapi nyata.

Tahun 2011, saya dinyatakan lolos masuk ke program studi Arsitektur ITB. Tentu saya gembira dimana dalam pandangan saya, arsitektur termasuk salah satu bidang industri kreatif di Indonesia. Setahun saya menjalankan kehidupan di prodi Arsitektur ini dan saya langsung menyimpulkan…

“Saya tidak akan menjadi arsitek tetapi tetap akan menggunakan ilmu arsitektur yang didapat.”

Karena anggapan itu pun, saya memilih untuk tidak mengikuti sayembara yang ada selama liburan dan memilih menyibukan diri di bidang ICT yang saya gemari. Saya memang mendapatkan apa yang ingin saya rasakan. Networking yang baik dengan rekan-rekan insan kreatif ICT di Indonesia dan bahkan saya ikut nimbrung dengan komunitas developer aplikasi yang ada. Namun, ada satu hal yang belum bisa saya hasilkan: Karya.

Karya bisa dihasilkan melalui passion yang kuat dan/atau didikan formal yang baik dan sesuai dengan bidangnya. Passion saya lebih condong ke dunia pengembangan aplikasi tetapi didikan formal yang saya dapatkan adalah Arsitektur. Bagaimana saya mengkolaborasikannya?

Selang kemudian, saya teringat dengan bagaimana Rara begitu giatnya di dunia media sosial dan blogging sementara dirinya seorang dokter gigi? Bagaimana seorang Tompi yang lebih terkenal sebagai seorang penyanyi ketimbang profesi hasil didikan formalnya sebagai dokter? Dan bagaimana seorang Ridwan Kamil dapat menghasilkan karya besarnya di jalur Arsitektur tetapi masih dapat aktif di dunia komunitas kreatif Bandung?

Sinergi, Gairah (Passion) dan Karya. Itulah kata-kata yang dapat saya simpulkan detik ini dari contoh di atas. Hasil didikan formal yang saya dapatkan dan gairah yang saya miliki harus sinergis sehingga menghasilkan sebuah karya yang maksimal.

Karena ini pula, saya memutuskan untuk kembali akan menjadi seorang arsitek yang sinergis dengan gairah (passion) yang kuat sehingga menghasilkan karya yang luar biasa. Insya Allah, semoga saya dapat istiqamah (konsisten) dengan pernyataan saya ini.

Fauzan Alfi