Meninggalkan Kemewahan Demi Mengejar Kemiskinan

Kini, semua orang senang meninggalkan kemewahan dan berusaha membabi buta mengejar kemiskinan apapun yang terjadi. Tak percaya? Kamu bisa lihat lingkungan sekililingmu.

Kamu adalah orang kaya jika kamu masih bisa melihat pepohonan lebat di sekitarmu.

Kamu adalah orang kaya jika kamu masih bisa menikmati ruang-ruang bermain dengan padang rumput ilalang menemani.

Kamu adalah orang kaya ketika kamu bisa menghabiskan waktu dengan teman-temanmu berlari dan bermain di sore hari tanpa dihantui rasa takut.

Kamu adalah orang kaya ketika kamu bisa menghayati sebuah ruang hijau berarti untuk hidupmu dan manusia di sekitarnya.

Lalu?

Kamu adalah orang miskin jika kamu senang tinggal di antara hutan beton tanpa adanya ruang publik hijau di antaranya.

Kamu adalah orang miskin jika kamu senang menghabiskan waktumu yang sempit di dalam pusat perbelanjaan yang besar dan penuh dengan barang-barang dengan harga yang mahal.

Kamu adalah orang miskin ketika kamu hanya ingin menikmati hidup dalam sebuah restoran mahal dengan makanan porsi sedikit.

Kamu adalah orang miskin ketika kamu menghilangkan ruang publik hijau untuk keegoisanmu belaka.

Maka?

Jadilah orang kaya dengan menghargai ruang publik terbuka hijau dan menghargai ruangmu menjadi sebuah meaningful place.

A space is not always a place. But a place is always become your meaningful space.

Ubuntu for Phone. Desktop-like and gesture-centric phone OS.

ubuntuphone

Kemarin, Canonical memperkenalkan sistem operasi Ubuntu untuk telepon genggam. Sekilas seperti sistem operasi mobile yang sudah ada tetapi ada satu hal yang berbeda. Ubuntu memaksakan kehadiran elemen Ubuntu Unity untuk desktop ke dalam bentuk mobile. Tak ada yang salah karena tujuan utama pengembang adalah menghadirkan tampilan dan pengalaman yang serupa antara Ubuntu Desktop, Ubuntu untuk TV dan Ubuntu untuk telepon. Untuk navigasi antara menu utama, aplikasi dan Unity bar, gesture sangat diandalkan di sini.

Ubuntu Phone ini terlalu terpusat pada gesture yang sedikit menggelikan bahkan untuk yang tidak terbiasa. Di satu sisi, gesture memberi kemudahan tersendiri untuk berpindah dari satu tampilan ke tampilan lain atau dari satu aplikasi ke aplikasi yang lain namun gesture yang diberikan terlalu serial. Kita tidak bisa loncat berpindah dari aplikasi yang sedang digunakan ke aplikasi ke-sekian yang sudah digunakan sebelumnya. Well, it’s all about multitasking. Apple mengatasi hal ini dengan adanya multitasking bar di iOS dan begitupun Google pada Android OS.

Masih banyak hal yang harus diperbaiki, diubah dan ditingkatkan dari sistem operasi Ubuntu untuk telepon. Semoga proyek ini bukan menjadi wacana layaknya Ubuntu TV yang sampai sekarang belum ada satu produk pun yang mengimplementasikannya.